Diary of an IT Guy

Heart passion to keep the brain moving>>>

Posts Tagged ‘perjalanan

Milestone

leave a comment »

Suatu ketika, di pinggir hutan, tinggallah seorang tua yang bijak. Orang-orang desa mengenalnya sebagai sosok yang baik hati. Pondoknya sering menjadi tempat berkunjung bagi yang membutuhkan bantuan. Makanan, minuman, obat-obatan dan seringkali nasehat-nasehat, kerap dihasilkan dari dalam pondok itu.

Ketenangan dan keasrian selalu menyertai sekitar lingkungannya. Hingga pada suatu hari, terdengar teriakan lantang dari luar, "Ajarkan aku tentang kehidupan!!". Ah, rupanya, ada seorang anak muda yang datang dengan tergesa-gesa. "Aku adalah pengelana, yang telah berjalan jauh dari ujung-ujung buana. Telah ribuan tempat kujelajahi dan telah ribuan jengkal kususuri. Namun, aku tetap tak puas, ajarkanlah aku tentang kehidupan." Begitu teriak si anak muda.

Terdengar sahutan dari dalam. "Jika kau memintaku mengajari tentang kehidupan, maka, akan ku ajari engkau tentang perjalanan" Sang tua keluar dari pondok, dengan tongkat di tangannya. Ia lalu menghampiri anak muda yang masih tampak tergesa itu, dan mengajaknya berjalan beriringan.

Lama mereka berjalan melintasi hutan. Namun, sang tua belum mengucapkan sepatah katapun. Tak ada ujaran lewat mulut yang disampaikannya. Hanya, setiap mereka menemui sebuah pohon besar, sang tua selalu menunduk, menarik nafas panjang dan lalu menorehkan tanda silang di setiap batang pohon. Terus, begitu lah yang di lakukan sang tua setiap kali menemukan pohon besar: sebuah tundukan kepala, tarikan nafas panjang, dan torehan silang di batang pohon.

Sudah setengah harian mereka berjalan. Anak muda itupun mulai resah. Ia masih belum bisa mengerti apa maksud semua ini. Sampai akhirnya, mereka menjumpai telaga, dan memutuskan istirahat disana. Terlontarlah pertanyaan yang telah lama di simpannya, "Wahai orang tua, ajarkan aku tentang kehidupan!.

Sang tua sudah bisa membaca keadaan ini. Sambil membasuh mukanya dengan air telaga, ia berujar. "Anak muda, kehidupan, adalah layaknya sebuah perjalanan. Kenyataan itu, akan mempertemukan kita dengan banyak harapan dan keinginan. Kehidupan, akan selalu berjalan dan berjalan, berputar, hingga mungkin kita akan tak paham, mana ujung dan pangkalnya.

"Namun, belajar tentang kehidupan, adalah juga belajar untuk menciptakan tanda-tanda pemberhentian. Belajar untuk membuat halte-halte dalam hidup kita. "Sejenak, berhentilah. Renungkan perjalanan yang telah kau lalui. Siapkan persimpangan-persimpangan dalam hidupmu agar dapat membuatmu kembali menentukan arah perjalanan.

"Pohon-pohon tadi, adalah sebuah prasasti, dan penanda buatmu dalam berjalan. Mereka semua akan menjadi pengingat betapa lelah kaki-kaki ini telah melangkah. Mereka semua akan menjadi pengingat, tentang jalan-jalan yang telah kita lalui. Pohon-pohon itu menjadi kawan yang karib tentang kenangan-kenangan yang telah lalu. Biarkan mereka menjadi penolongmu saat kau kehilangan arah. "

"Dan, anak muda, cobalah beberapa saat untuk berhenti. Sejenak, aturlah nafasmu, tariklah lebih dalam, pandang jauh ke belakang, ke arah ujung-ujung jejak yang kau lalui. Biarkan semuanya beristirahat. Sebab, sekali lagi, belajar tentang kehidupan, adalah juga belajar tentang menciptakan pemberhentian.

Advertisements

Written by isal

12 December 2013 at 07:31

Catatan ringan perjuangan menuju tempat kerjaan

leave a comment »

Hidup di Jakarta memang penuh perjuangan. Apalagi buat orang yg penghasilannya terbatas sehingga kebutuhan transportasinya begitu bergantung pada fasilitas umum. Perjuangan meraih tempat untuk berdiri di dalam bis tujuan kota jakarta saja kadang sudah berat, apalagi jika ingin dapat tempat duduk. Tempat duduk adalah benda ‘mewah’ dalam konteks transportasi umum. Tempat saya menunggu bis adalah ujung dari rute trayek bis ini. Tentunya lebih mudah bagi kami yg menunggu bis di ujung trayek ini untuk mendapat kursi ketimbang orang-orang yang menunggu di tengah-tengah rute trayek. Tapi jangan anggap terlalu mudah, karena yang menunggu di pangkalan ujung trayek inipun banyak, lebih banyak dari kursi yang tersedia di bis sehingga kursi tetap saja jadi rebutan.

Momen orang berlarian berebut memasuki pintu dari setiap bis yang baru datang adalah momen yang menarik. Setiap orang berharap menjadi yg lebih dahulu masuk, agar masing-masing mereka dapat duduk. Kadang ada sedikit dorongan, senggolan dan berbagai benturan fisik lain. Semua itu dilakukan karena dengan duduk, perjalanan yang bisa memakan waktu sampai 2 jam, bisa diselingi dengan tidur, chatting, bbm-an, atau bahkan dengan menulis tulisan ini.

Yang menarik dari perjalanan hari ini adalah seorang bapak yang setelah rebutan masuk bis, duduk 2 baris di depan saya. Pakaiannya biasa saja, baju hitam dengan celana hitam. Gak berbeda dengan orang lain. Setelah dia dapat tempat duduk, dia sempat menyapa seorang bapak lain di baris belakangnya, persis di depan saya duduk. Bis sudah penuh dan mulai berjalan, beberapa orang harus berdiri karena tidak kebagian tempat duduk. Selang 20 meter bus berhenti kembali, ada beberapa penumpang mulai naik. Bapak ini mulai menarik perhatian saya, karena dia memberi kode kepada seorang wanita muda berpenampilan pegawai kantoran yang duduk diatas motor di samping bis yang berhenti. Wanita itupun naik kedalam bis, sementara si bapak malah berdiri dari kursinya dan kemudian menyerahkan kursinya kepada si wanita sebelum kemudian turun dari bis.

Saya bertanya-tanya, fenomena apa ini? Apakah sudah sebegitu kerasnya perjuangan mendapat kursi di bis sampai perlu ada calo khusus?
Jawabannya saya dapat dari bapak di depan saya. Ternyata wanita itu putri si bapak yang turun dari bis. Saya perhatikan wajah si bapak yang saat ini sudah duduk diatas motor disamping bis tadi. Seperti senang sekali bisa mempermudah hidup putrinya walau mungkin hanya sekedar untuk 2 jam perjalanan..

Oh bapak, terima kasih sudah menginspirasi saya.. Anak-anak kita adalah titipan Allah. Jaga, rawat dan sayang adalah kata yang harus menghiasi interaksi kita dengan mereka..

3desember, diatas kursi yang diantar 4 roda berputar

——
Sharing from a friend who live in Bekasi and work in Jakarta

Written by isal

3 December 2013 at 11:06

%d bloggers like this: