Diary of an IT Guy

Heart passion to keep the brain moving>>>

Dan Tidurlah Dengan Tenang

leave a comment »

Di Madinah yang tenang, hari itu. Siang berlalu setengah perjalanan. Serombongan orang asing berjalan memasuki kota suci Islam kedua itu. Ternyata itu adalah rombongan Hurmuzan, Panglima dan Pangeran Persia yang telah ditaklukkan pasukan Muslim, yang ingin bertemu dengan Amirul Mu’minin Umar bin Khattab.

Dengan ditemani Anas bin Malik, Hurmuzan datang dengan kebesaran dan kemegahannya. Dengan diikuti pemuka-pemuka terkenal dan seluruh anggota keluarganya, Hurmuzan memasuki Madinah dengan menampilkan keagungan dan kemuliaan seorang raja. Perhiasan yang bertatah permata melekat di dahi. Sementara mantel sutra yang mewah menutupi pundaknya. Sementara itu, sebilah pedang bengkok dengan hiasan batu-batu mulia menggantung pada sabuknya.

Hurmuzan bertanya-tanya di mana Amirul Mu’minin bertempat tinggal. la membayangkan bahwa Umar bin Khattab yang kemasyhurannya tersebar ke seluruh dunia pasti tinggal di sebuah istana yang megah.

Sampai di Madinah, rombongan Hurmuzah langsung menuju ke tempat kediaman Umar. Tetapi mereka diberitahu bahwa Umar sudah pergi ke masjid sedang menerima delegasi dari Kufah.

Mereka pun bergegas ke ruang utama masjid. Tetapi Umar tidak juga terlihat. Melihat rombongan itu, anak-anak Madinah mengerti maksud kedatangan mereka. Lalu diberitahukanlah bahwa Amirul Mukminin sedang tidur di beranda kanan masjid dengan menggunakan mantelnya sebagai bantal.

Betapa terkejutnya Hurmuzan, ketika ditunjukkan bahwa Umar adalah lelaki dengan pakaian seadanya, yang sedang tidur di beranda masjid itu. Hurmuzan beserta rombongannya nyaris tak percaya. Tetapi, memang itulah kenyataannya. Di beranda masjid itu tidak ada lagi orang lain kecuali Umar.

Maka, dalam riwayat lain dikatakan, sambil berdecak heran Hurmuzan berguman, “Engkau, wahai Umar, telah memerintah dengan adil, lalu engkau aman, dan engkau pun bisa tidur dengan nyaman.”

Setelah itu terjadi dialog panjang lebar. Juga kesepakatan-kesepakatan penting. Tetapi sepenggal kisah di atas, adalah kisah tentang kebesaran orang-orang terbaik sepanjang sejarah — seperti Umar -– yang mengajarkan arti sesungguhnya dari rasa aman dan tenang. Bisakah dibayangkan, seorang pemimpin tertinggi, yang kekuasaannya bergema ke seantero bumi, dengan ringan dan tanpa rasa takut sedikitpun tidur-tiduran di emperan masjid?

Tak bisa dipungkiri, ada hubungan erat antara tidur seseorang dengan rasa aman. Meski indikator rasa aman tidak semata hanya kenyamanan sewaktu tidur. Tetapi, yang pasti, orang yang sedang mengalami gangguan fisik maupun psikis, umumnya akan susah tidur. Gangguan susah tidur, dalam terminologi kedokteran atau psikologi sering disebut dengan insomnia (in = tidak, sommus = tidur). Ada yang sementara, ada yang kronis.

Setiap orang perlu tidur. Meski lamanya waktu tidur yang diperlukan orang berbeda-beda. Dengan tidur, seseorang melakukan pembersihan diri dari “sampah penyebab kelelahan” sehingga saat bangun tubuh terasa segar.

Karenanya, pada masa Rasulullah, ketika perang Ahzab berkecamuk hebat, salah satu kenikmatan besar yang dirasakan kaum muslimin adalah turunnya hujan dan datangnya rasa kantuk. Allah SWT berfirman, “(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penentraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaithan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kakimu.” (QS AI-Anfal: 11).

Setiap kita perlu rasa aman. Bahkan rasa aman merupakan salah satu kebutuhan penting manusia dalam hidup. Tanpa rasa aman, apalah artinya dunia dan segala gemerlapnya. Karenanya, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa di antara kalian mendapati paginya dalam keadaan aman, di keluarganya dan di perjalanannya, sehat badannya, memiliki apa yang ia makan hari itu, maka sungguh ia seperti memiliki seisi dunia.” (HR Turmidzi dan Ibnu Majah).

Kunci dari semua kenyamanan terletak pada kenyamanan jiwa. Sedang kenyamanan jiwa bersumber dari rasa aman yang diberikan Allah swt kepada hamba-Nya. Dengan jelas, Allah swt mengatakan, “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang taubat kepada-Nya. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram. Orang-orang yang beriman dan beramal shalih, bagi mereka kebahagian dan tempat kembali yang baik.” (QS Ar-Ra’d: 27 -29).

Pengaruh iman dan amal shalih terhadap rasa nyaman sangat besar. Ada kontribusi siginifikan yang diberikan kenyamanan hati terhadap kenyamanan fisik. Apa yang ada di hati akan “bersuara” pada fisik kita. Bahkan, kadangkala, kadar keimanan dan keshalihan itu tidak saja memberi rasa aman pada pemiliknya.

Seringkali keshalihan seseorang berimbas kepada munculnya rasa aman pada orang-orang yang ada di sekitarnya. Seperti sosok Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima yang terkenal keshalihannya itu. Malik bin Dinar mengisahkan, ketika Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah, para penggembala kambing di puncak gunung berkata, “Siapakah khalifah yang shalih yang sedang memerintah manusia saat ini?” Padahal para penggembala itu tidak tahu menahu tentang peristiwa di kota, termasuk diangkatnya khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketika hal itu ditanyakan kepada mereka, para pengembala itu menjelaskan, “Bila pemerintahan dipegang oleh seorang khalifah yang shalih, serigala dan singa tidak mengganggu kambing-kambing kami.”

Riwayat lain yang menguatkan kisah tersebut, adalah apa yang dituturkan oleh Hasan Al-Qasshar, “Aku bekerja sebagai pemerah susu kambing pada masa pemerintahan khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada suatu ketika, aku melewati para penggembala, sedangkan ditengah-tengah gerombolan kambingnya terdapat sekitar tiga puluh serigala. Karena sebelumnya aku belum pernah melihat serigala, aku mengira serigala itu adalah anjing. Akuvpun bertanya kepada para penggembala itu, ‘Wahai penggembala, untuk apakah anjing sebanyak itu?’ Mereka menjawab, ‘Wahai anak muda, ini bukan kawanan anjing, tetapi kawanan serigala.’ Aku berkata heran, ‘Subhanallah, apakah mereka tidak membahayakan kambing-kambing engkau?’ Penggembala itu menjawab, ‘Wahai anak muda, apabila kepala sudah sehat, maka badan tidak akan rusak.'” Maksud dari kepala adalah kepala pemerintahan, yang waktu itu dipimpin oleh Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Begitulah keshalihan Umar bin Abdul Aziz. Maka, ketika Umar bin Abdul Aziz telah tiada, keadaannya pun berubah. Musa bin Ayyan mengisahkan, “Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz, demi Allah, kami menggembala kambing bersama serigala di suatu tempat. Hingga pada suatu malam serigala menyerang seekor kambing kami. Dengan ada peristiwa ini kami memperkirakan bahwa lelaki shalih yang diangkat menjadi khalifah telah wafat. Ternyata, keesokan harinya memang benar, kami mendengar kabar bahwa Khalifah Umar bin Abdu Aziz telah meninggal dunia.”

Atas dasar itu, mengertilah kita mengapa orang sekelas Umar bin Khattab bisa dengan ringan tidur di emperan masjid seorang diri. Karena masalah utamanya bukan terletak pada soal tidurnya itu sendiri, tetapi sesuatu yang ada di balik tidur tersebut. Sesuatu itu adalah jiwa yang penuh suluh keimanan. Bersinar terang memenuhi relung hati yang lapang. Yang cahayanya melahirkan rasa tentram, rasa damai dan aman, bahkan untuk orang-orang yang ada di sekitarnya . Tetapi itu tak berarti bahwa orang-orang seperti Umar bin Khattab atau lainnya lantas banyak mengisi hidupnya dengan tidur, Umar justru jarang tidur karena banyaknya urusan. Tetapi ia bisa tidur di mana saja, tanpa sedikit pun rasa takut, kecuali kepada Allah swt.

Betapa banyak orang bergelimang kemewahan dan pangkat, tetapi untuk sekadar memejamkan mata saja tak bisa. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang tampak lahirnya biasa-biasa saja. Namun di dalam jiwanya terdapat samudera ketenangan yang luar biasa. Di dalam jiwanya terletak mata air iman yang segar dan menyegar kan.

Kini segalanya menjadi jelas. Dalam jenak-jenak istirahat tidur yang kita lakukan, sesungguhnya kita sedang bertaruh, apakah kita seorang mukmin yang baik atau tidak. Karena, di sana, di dalam cahaya iman itu, letak rasa aman dan nyenyak tidur kita yang sesungguhnya.

Dikutip dari Tarbawi edisi 33 Tahun 3

Written by isal

27 September 2009 at 22:01

Posted in Power

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: