Diary of an IT Guy

Heart passion to keep the brain moving>>>

Setan, Teman Tidak Mesra

with 2 comments

Mudah-mudahan renungan di bawah ini dapat menjadi cambuk dan nasehat bagi diri. Wahai diri, wahai jiwa berhati-hatilah…

=====

Ramadan terjalani sudah. Setan dibelenggu, agar manusia khusyuk beribadah. Ramai-ramai menabung pahala, dan kembali fitri tatkala bulan penuh berkah ini mengikuti putaran waktu, memasuki fitrahnya, balik seperti sediakala. Benarkah jika setan ‘absen’ menggoda terjamin keharmonisan dunia? Di bulan suci ini rasanya menarik untuk bicara soal itu.

Istilah setan atau iblis hanya ada dalam agama samawi, ‘agama langit’. Yahudi, Kristen dan Islam meyakini itu. Dia semula makhluk penjaga harta surga, dan dilaknat Allah ketika menolak untuk mengakui eksistensi Nabi Adam sebagai makhluk paling mulia. Itu karena setan terbuat dari api, sedang Adam ‘hanya’ terbuat dari tanah.

Setan tidaklah terbilang jumlahnya. Ahli tafsir memprediksi, kuantitas malaikat paling banyak, disusul setan dan manusia. Disebutnya, jika ada bilangan sepuluh, maka yang sembilan adalah malaikat, satu itu setan dan manusia. Kalau satu itu dibulatkan menjadi sepuluh, maka yang sembilan itu adalah setan, sedang yang satu itu manusia.

Manusia, setan dan malaikat adalah menyatu. Poros penyatuan itu ada dalam diri manusia. Saban manusia ditemani dua malaikat yang bertindak sebagai ‘akuntan’ untuk menghitung baik dan buruk. Dan diasumsikan terdapat tiga setan yang ‘mengaduk-aduk’ jeroan manusia. Mereka membisiki dan mempengaruhi agar berbuat tercela.

‘Jam kerja’ setan dimulai sejak manusia dilahirkan ke dunia. Tangis bayi yang bagi paramedis diasumsikan sebagai ‘tanda kehidupan awal’ sang bayi, bagi keyakinan pengikut agama samawi merupakan sinyal awal masuknya setan ‘merongrong’ kebaikan manusia. Hanya satu manusia yang kelahirannya tidak disertai setan, yaitu Nabi Isa.

Setan memang identik dengan keburukan. Buruk sangka dan buruk tindakan. Akibatnya, keburukan yang dilakukan manusia itu akibat keterlibatan setan atau bukan tidak pernah disoal. Semuanya ditimpakan pada makhluk yang pasti masuk neraka itu. Setan terkadang ‘kambing hitam’ dari tindakan jelek manusia.

Peter J Awn dalam ‘Tragedi Setan’ dengan sangat puitis mengatakan, “Setan itu kasihan, ‘berbuat baik’ pun tetap masuk neraka. Namun ingat, kalau mengasihani setan, itu hakekatnya sama dengan sudah digoda setan.”Setan berbuat baik? Ya. Perbuatan baik untuk sesuatu yang buruk.

Dalam sebuah kisah orang-orang suci diceritakan. Suatu hari, seorang sufi sedang tertidur di sebuah bangunan tua yang akan roboh. Saking nyenyaknya tidur sang sufi, hingga Ashar hampir ‘habis’, dia masih mendengkur di bawah bangunan.

Saat itulah datang seorang tua. Dia membangunkan tidur orang suci ini. Sang sufi yang sudah terasah batinnya itu terpana tatkala membuka mata. Ia tahu, yang membangunkannya adalah setan yang menjelma sebagai orang tua. Sang sufi pun menegur. “Aku tahu kamu setan, tapi mengapa membangunkan aku untuk menunaikan salat Ashar?”

Setan ini menjawab tenang. “Sudah tunaikan dulu salatmu. Habis salat, pertanyaanmu akan aku jawab. Cepat sekarang ambil wudhu dan tunaikan perintah Tuhanmu.”

Sang sufi beranjak meninggalkan bangunan tua itu. Dia ambli wudhu, dan menunaikan salat ashar di pohon rindang yang ada di samping bangunan itu. Saat salat, bangunan tua itu roboh. Sang sufi yang khusyuk tidak mendengar itu. Habis salat, sang sufi yang penasaran mendekati setan itu. Dia kembali bertanya, motivasi apa yang membuat setan itu membangunkan dan menyuruhnya sembahyang.

Apa jawab setan itu? “Lihat bangunan yang kamu tiduri tadi. Bangunan itu roboh. Kalau kamu masih ada disitu, kamu akan mati tertimpa reruntuhan. Janji Allah, surga bagimu. Itu artinya, tertutup sudah pintu untuk menggodamu. Aku tidak rela kamu masuk surga.”

“Kamu kubangunkan salat, agar kamu terhindar dari kematian itu. Sekarang kamu masih hidup. Aku masih punya kesempatan untuk menggodamu agar masuk neraka.” Dari kisah ini tampak, setan itu cerdik dan cerdas jika kita sedang alpa. Jika kita sedang panik, dan otak serta batin kita lengah.

Namun adakah dengan demikian kita harus resah dengan godaan setan yang cerdas dan ada dalam diri kita itu? Dalam ‘Kisah Iblis’ Nabi Muhammad SAW mencegah para sahabat yang hendak membunuhnya. Saat itu iblis sedang bertamu. Nabi menyatakan, seseorang yang sedang mengetuk pintu itu adalah setan. Nabi menganjurkan para sahabat menanyai apa yang membuat iblis gembira atau bersedih. Dari sana amalan yang tidak disukai setan dijalankan, dan ditinggalkan sesuatu yang menjadi keinginan setan.

Iblis pun menguraikan kesukaan dan ketidaksukaannya. Dari dialog itu terpampang, ternyata, jika kita tidak malas, tuntunan yang sudah kita lakukan adalah langkah yang amat strategis untuk menjauhi keterlibatan setan dalam diri kita. Salat dan amal yang tidak untuk pamer syarat utama. Dzikrullah yang tidak putus patut dianut. Malah salat di waktu sahur saja sudah mampu membutakan mata setan.

Tapi yang menjadi pertanyaan, mengapa di negeri yang dipenuhi warga dengan salat tidak pernah lowong itu korupsi juga tidak berhenti? Tipu-tipu rakyat juga makin menjadi-jadi, dan pat-gulipat semakin menjadi tradisi? Jangan-jangan yang kita lihat sebagai manusia itu ternyata setan atau iblis yang berubah rupa. Naudzubillahi mindzalik !

Keterangan Penulis: Djoko Su’ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta.(iy/iy)

http://www.detiknews.com/read/2008/09/04/093009/1000054/103/setan-teman-tidak-mesra

Written by isal

4 September 2008 at 12:37

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. banyak orang yang berdoa atau beribadah hanya sebagai kebiasaan. itulah yang menjadikan peluang bagi iblis untuk tetap bisa mendekati kita sekalipun saat itu kita beribadah. kenapa?karena bukan kerinduan kita akan Tuhan yang menuntun kita menemuiNya, melainkan hanya sebagai formalitas akan konsekuensi agama yang kita anut. jadi sangat wajar apabila seseorang yang terlihat baik dimata manusia, tetapi tidak berkenan dimata Tuhan. bahasa kasarnya, saat ibadah ya ibadah tapi saat-saat selain itu tetap saja semaunya sendiri. mungkin itu juga salah satu penyebab atas apa yang terjadi di negara kita. *sok bijak mode on*

    andre

    4 September 2008 at 15:18

  2. @Andre: iya ya ndre ternyata setan itu sabar bgt dan bisa baik ama kita tapi dibalik itu ya dia pengen kita bisa terjerumus… haduhhh gusti Allah ampuni kami ya..

    isal

    9 September 2008 at 23:52


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: