Diary of an IT Guy

Heart passion to keep the brain moving>>>

Jakarta kota paling memalukan karena salah urus

with 3 comments

Setelah tiga tahun resmi merantau dan cari makan di Jakarta, eh ternyata makin hari Jakarta makin panas dan sesek aja. Mirip dengan neraka dunia. Minggu lalu aja pas naek angkot 44 habis ngambas ada dua copet marah-marah sambil ngancem :” Jangan macem2 lu, di Jakarta banyak orang stress..kalau mau bunuh-bunuhan hayuu…”

Wah jakarta jadi makin seyeemm aje…

Mengacu pada tulisan salah satu jurnalis bule Amerika yang pernah ke Jakarta yakni Andre Vltchek di kolom Worldpress dengan judul Jakarta: In Dire Need of Improvement ternyata emang Jakarta ini adalah satu kota terbesar di dunia yang paling tidak ramah, tidak pro lingkungan dan rakyat kecil. Beberapa ulasan dia dan setelah dipiki2 memang benar antara lain:

  1. Jalanan macet karena tidak adanya sarana tranportasi publik massal seperti kereta subway atau monorail yang lewat ke pusat jantung bisnis. Sehingga warga jakarta lebih memilih kendaraan pribadi terutama mobil atau motor untuk sampai ke tempat kerja.
  2. Perencaanan kota yang buruk. Terhampar perkampungan dengan sanitasi yang menyedihkan diantara ratusan gedung pencakar langit yang megah.
  3. Disaat hampir semua kota-kota utama lain di Asia Tenggara menginvestasikan dana besar-besaran untuk transportasi publik, taman kota, taman bermain, trotoar besar, dan lembaga kebudayaan seperti museum, gedung konser, dan pusat pameran, Jakarta tumbuh secara BRUTAL dengan berpihak hanya pada PEMILIK MODAL dan TIDAK PEDULI akan nasib mayoritas penduduknya yang MISKIN.
  4. Kebanyakan penduduk Jakarta belum pernah pergi ke luar negeri, sehingga mereka tidak dapat membandingkan kota Jakarta dengan Kuala Lumpur atau Singapura, Hanoi atau Bangkok . Liputan dan statistik pembanding juga jarang ditampilkan oleh media massa setempat. Meskipun bagi para wisatawan asing Jakarta merupakan NERAKA DUNIA, media massa setempat menggambarkan Jakarta sebagai kota “modern”, “kosmopolitan” , dan “metropolis”. Sigh najis. Ngomong aja PLAY HARD, WORK HARD. Cihhh

  5. Di Jakarta kita perlu biaya untuk segala sesuatu. Banyak lahan hijau diubah menjadi lapangan golf demi kepentingan orang kaya. Kawasan Monas seluas kurang lebih 1 km persegi bisa jadi merupakan satu-satunya kawasan publik di kota berpenduduk lebih dari 10 juta ini. Meskipun menyandang predikat kota maritim, Jakarta telah terpisah dari laut dengan Ancol menjadi satu-satunya lokasi rekreasi yang sebenarnya hanya berupa pantai kotor.Bahkan kalau mau jalan-jalan ke Ancol, satu keluarga dengan 4 orang anggota keluarga harus mengeluarkan uang Rp 40.000 untuk tiket masuk, satu hal yang tak masuk akal di belahan lain dunia. Beberapa taman publik kecil kondisinya menyedihkan dan tidak aman. brengsek gw dipalakin!
  6. Sama sekali tidak ditemui tempat pejalan kaki di seluruh penjuru kota (tempat pejalan kaki yang dimaksud adalah sesuai dengan standar “internasional” ). Nyaris seluruh kota-kota di dunia (kecuali beberapa kota di AS, seperti Houston dan LA) ramah terhadap pejalan kaki. Mobil seringkali tidak diperkenankan berkeliaran di pusat kota . Trotoar yang lebar merupakan sarana tr ansportasi publik jarak pendek yang paling efisien, sehat, dan ramah lingkungan di daerah yang padat penduduk.
  7. Siapapun yang bernah berkunjung ke “perpustakaan umum” atau gedung Arsip Nasional pasti tahu bedanya. Tak heran, dalam pendidikan Indonesia, budaya dan seni tidak dianggap “menguntungkan” (kecuali musik pop), sehingga menjadi tidak relevan. Indonesia merupakan negara dengan ANGGARAN PENDIDIKAN TERENDAH nomor 3 di dunia – Masya Alloh! (pent.) – (menurut The Economist, hanya 1,2% dari PDB) setelah Guyana Khatulistiwa dan Ekuador (di kedua negara tersebut keadaan sekarang berkembang cepat berkat pemerintahan baru yang progresif)
  8. Sepertinya Jakarta tidak punya perencana kota, hanya ada pengembang swasta yang tidak punya respek atau kepedulian akan mayoritas penduduk yang miskin (mayoritas besar, tak peduli apa yang dikatakan oleh data statistik yang seringkali DIMANIPULIR pemerintah). Kota Jakarta praktis menyerahkan dirinya ke sektor swasta, yang kini nyaris mengendalikan semua hal, mulai dari perumahan hingga ke area publik.
  9. Dapatkah pernyataan ini dibalik? Mampukah Jakarta menemukan kekuatan dan solidaritas untuk mobilisasi sehingga dapat menyaingi Kualalumpur? Mampukah kecukupan mengatasi keserakahan? Dapatkah korupsi diberantas dan diganti dengan kreatifitas? Akankah ukuran vila pribadi mengecil, dan kawasan hijau, perumahan publik, taman bermain, perpustakaan, sekolah dan rumah sakit berkembang pesat?

Simpulan:

  • Korupsi memang sudah membuat kota Jakarta semakin amburadul. Inilah akibat dari korusi yang tiada henti.
  • Pemberi utang asing (terutama Jepang) lebih menghendaki PEMERINTAH untuk bangun infrastruktur jalan tol, mal dan gedung pencakar langit ketimbang sarana transportasi publik sepeti monorail atau subway. Kenapa? Ya supaya mobil-motor buatan negara mereka (Toyota, Honda, Daihatsu, Ford, BMW, dll) laku dijual. Inilah blunder PEMERINTAH jaman baheula yang lebih memilih memperbanyak angkot dan bus dibanding sarana tranportasi publik seperti kereta subway/monorail. Yah kita sudah ditipu oleh dua sisi..para koruptor pribumi dan rentenir asing!

Written by isal

2 August 2008 at 06:06

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. hahahaha, sapa suru tinggal jakarta, kemaren pas gue balik aja macetnya bukan maen, tapi karena ge lahir dan besar dijakarta tetep aja nyaman tuh disini, asik…. walau macet apa aja ada dimari. Mo makan apa aja ada.

    Resi Bismo

    7 August 2008 at 11:26

  2. hi..hi..hi..jakarta dibandingin dgn kota2 kecil dr negara2 kecil wilayahny pula. g seimbang bos. copet penjahat jg sm ad dmn2. cuih.. bwt kota2 luar negeri!

    biar gimanapun, I “heart” Jakarta… mari kita sama2 membangun kota tercinta ini ..

    daniku

    24 August 2008 at 22:17

  3. lihatlah jakarta sekarang abis ujan macetnya di mana-mana. *sigh*
    neh beritanya

    isal

    28 August 2008 at 18:34


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: