Diary of an IT Guy

Heart passion to keep the brain moving>>>

Waspadai Jeratan Gaya Hidup

leave a comment »

Tagihan pulsa telepon seluler anak-anak melonjak dari bulan sebelumnya, sementara pengeluaran bensin kendaraan juga sudah jauh meningkat dibandingkan setahun lalu? Duh… pusing! Semua penting, sementara uang sudah tidak ada yang bisa dibagi ke pos lain.

Apa betul semua penting? Coba periksa gaya hidup Anda. Mungkin di sanalah awal masalah keuangan keluarga. Orang sering kali tidak sadar, gaya hidup bisa membuat terjerumus pada masalah yang memusingkan kepala, terutama ketika gaya hidup tak lagi sesuai dengan besarnya penghasilan.

Konsultan keuangan, Eko S Pratomo, pada seminar berjudul ”Cerdas Finansial dalam Keluarga” di Bandung beberapa waktu lalu mengingatkan, peningkatan gaya hidup bisa lebih cepat terjadi daripada peningkatan penghasilan.

Eko mencontohkan, ada seseorang yang awalnya mampu hidup dengan gaji Rp 500.000 per bulan setelah gajinya meningkat, konsumsinya pun menanjak. Orang tersebut mulai mengonsumsi banyak produk hingga satu saat merasa kekurangan karena penghasilannya tidak lagi mampu memenuhi kebutuhannya yang terus meningkat.

siap prilaku konsumtif sering terbentuk ketika kanak-kanak

Dorongan untuk sikap konsumtif sering terbentuk sejak anak-anak.


Mungkin Anda salah satu orang yang mengalami hidup demikian. Eko memberikan berbagai pilihan untuk mengantarkan Anda pada solusi.

Prihatin

Pilihan tersebut antara lain mengeluarkan kembali kemampuan hidup prihatin. Dengan kemampuan tersebut, orang bisa menahan diri mengeluarkan uang membeli produk.

Deddy, seorang peserta seminar, mengatakan, ia sering tak tega menolak permintaan anak-anaknya. ”Saya merasa selama ini saya banting tulang untuk anak dan istri,” kata Deddy.

Terhadap keluhan Deddy, Eko memberi dorongan, kemampuan hidup prihatin bisa diterapkan pada anak-anak sebab orang yang memiliki kemampuan hidup prihatin sejak muda biasanya lebih mudah meraih kesuksesan saat dewasa.

Eko juga menyarankan agar orangtua membiasakan anak-anak yang telah duduk di sekolah menengah pertama mengatur uang sakunya sendiri. ”Berikan uang saku untuk seminggu dan mereka tidak boleh meminta tambahan lagi,” kata Eko.

Tinjau ulang

Membatasi pengeluaran keluarga bisa juga dilakukan dengan mengurangi ongkos gaya hidup. Misalnya, kalau biasanya orangtua membeli makanan untuk makan siang, bisa diubah dengan membawa bekal.

”Saya selalu membawa makan siang sendiri. Ternyata cukup banyak pengeluaran yang bisa dihemat,” ujar penulis buku Cara Mudah Mengelola Keuangan Keluarga secara Islami tersebut.

Eko juga mengajak orangtua yang kesulitan keuangan dalam keluarga melihat lagi pengeluarannya apakah ada yang dianggap penting padahal tidak, misalnya pulsa telepon. ”Sekarang orangtua membelikan setiap anak telepon genggam. Padahal, tanpa telepon genggam pun orang tetap bisa hidup normal,” kata Eko.

Selain itu, tinjau lagi keinginan anggota keluarga. Misalnya, apakah betul keinginan membeli kendaraan roda empat adalah kebutuhan penting. Apakah keluarga masih memiliki budget untuk perawatan rutin dan bahan bakar.

”Kalau ternyata keluarga belum mampu memiliki kendaraan pribadi, sebaiknya ditunda sebab bahan bakar sekarang makin mahal akibat tidak ada subsidi,” ujar Eko.

Cari variasi

Dalam keluarga, rekreasi merupakan hal yang cukup penting untuk mendekatkan anggota keluarga, tetapi sering kali orangtua kehabisan ide untuk berekreasi. Akibatnya ketika orangtua dan anak-anak sama-sama punya waktu luang, misalnya pada hari libur, pilihan rekreasinya adalah jalan-jalan di mal lagi… jalan-jalan di mal lagi.

Setelah pulang dari mal dan membuka dompet, ternyata keluarga sudah mengeluarkan banyak uang untuk berbagai hal yang tidak terlalu penting, misalnya mengongkosi makan dan membeli barang menarik tetapi tidak penting. Kalau rekreasi seperti itu sudah dipersiapkan anggarannya tidak jadi masalah, tetapi kalau setiap minggu dilakukan dan tak diperhitungkan bisa-bisa bikin repot.

”Sebaiknya keluarga mencari variasi jenis rekreasi yang membuat keluarga senang dan mendidik tetapi tidak berbiaya besar,” kata Eko.

Ia mengatakan, memang mengelola keuangan keluarga mudah dibicarakan, tetapi sulit dilaksanakan. Itu sebabnya mulailah mencatat semua pengeluaran dari sekarang. Mungkin dari catatan keuangan keluarga itu makin tampak jelas gaya hidup seperti apa yang cocok untuk keluarga Anda. (Yenti Aprianti)

Taken From: http://www.kompas.com/kompascetak/read.php?cnt=.xml.2008.03.30.01194841

Some other useful article link:

Advertisements

Written by isal

2 April 2008 at 04:38

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: