Diary of an IT Guy

Heart passion to keep the brain moving>>>

SELAMAT HARI RAYA IDUL ADHA 1428 H

leave a comment »

Sepengggal kisah bagi kita selaku hamba Allah yang selalu diberi nikmat yang tidak terkira. Mudah-mudahan dapat menjadi pelajaran dan hikmah dalam qurban kita tahun ini.

Ini kisah tentang Yu Timah. Siapakah dia? Yu Timah adalah tetangga kami.
Dia salah seorang penerima program Subsidi Langsung Tunai (SLT) yang kini
sudah berakhir. Empat kali menerima SLT selama satu tahun jumlah uang yang
diterima Yu Timah dari pemerintah sebesar Rp 1,2 juta.


Yu Timah adalah penerima SLT yang sebenarnya. Maka rumahnya berlantai
tanah, berdinding anyaman bambu, tak punya sumur sendiri. Bahkan status tanah
yang di tempati gubuk Yu Timah adalah bukan milik sendiri.
Usia Yu Timah sekitar lima puluhan, berbadan kurus dan tidak menikah.
Barangkali karena kondisi tubuhnya yang kurus, sangat miskin, ditambah
yatim sejak kecil, maka Yu Timah tidak menarik lelaki manapun. Jadilah Yu
Timah  perawan tua hingga kini. Dia sebatang kara. Dulu setelah remaja Yu Timah bekerja sebagai pembantu rumah tangga di Jakarta. Namun, seiring usianya
yang terus meningkat, tenaga Yu Timah tidak laku di pasaran pembantu rumah
tangga.
Dia kembali ke kampung kami. Para tetangga bergotong royong membuatkan
gubuk buat Yu Timah bersama emaknya yang sudah sangat renta. Gubuk itu
didirikan di atas tanah tetangga yang bersedia menampung anak dan emak yang sangat
miskin itu.
Meski hidupnya sangat miskin, Yu Timah ingin mandiri. Maka ia berjualan
nasi bungkus. Pembeli tetapnya adalah para santri yang sedang mondok di
pesantren kampung kami. Tentu hasilnya tak seberapa. Tapi Yu Timah bertahan. Dan
nyatanya dia bisa hidup bertahun-tahun bersama emaknya.
Setelah emaknya meninggal Yu Timah mengasuh seorang kemenakan. Dia
biayai anak itu hingga tamat SD. Tapi ini zaman apa. Anak itu harus cari makan.
Maka dia tersedot arus perdagangan pembantu rumah tangga dan lagi-lagi
terdampar di Jakarta. Sudah empat tahun terakhir ini Yu Timah kembali
hidup sebatang kara dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan berjualan nasi
bungkus.
Untung di kampung kami ada pesantren kecil. Para santrinya adalah
anak-anak petani yang biasa makan nasi seperti yang dijual Yu Timah.
Kemarin Yu Timah datang ke rumah saya. Saya sudah mengira pasti dia mau
bicara soal tabungan. Inilah hebatnya. Semiskin itu Yu Timah masih bisa
menabung di bank perkreditan rakyat syariah di mana saya ikut jadi
pengurus.

Tapi Yu Timah tidak pernah mau datang ke kantor. Katanya, malu sebab dia orang miskin dan buta huruf. Dia menabung Rp 5.000 atau Rp 10 ribu
setiap bulan. Namun setelah menjadi penerima SLT Yu Timah bisa setor tabungan
hingga Rp 250 ribu. Dan sejak itu saya melihat Yu Timah memakai cincin emas.
Yah, emas. Untuk orang seperti Yu Timah, setitik emas di jari adalah
persoalan mengangkat harga diri. Saldo terakhir Yu Timah adalah Rp 650 ribu.
Yu Timah biasa duduk menjauh bila berhadapan dengan saya. Malah maunya
bersimpuh di lantai, namun selalu saya cegah.
”Pak, saya mau mengambil tabungan,” kata Yu Timah dengan suaranya yang
kecil. ”O, tentu bisa. Tapi ini hari Sabtu dan sudah sore. Bank kita sudah
tutup.
Bagaimana bila Senin?”
”Senin juga tidak apa-apa. Saya tidak tergesa.”
”Mau ambil berapa?” tanya saya.
”Enam ratus ribu, Pak.”
”Kok banyak sekali. Untuk apa, Yu?”
Yu Timah tidak segera menjawab. Menunduk, sambil tersenyum malu-malu.
”Saya mau beli kambing kurban, Pak. Kalau enam ratus ribu saya tambahi
dengan uang saya yang di tangan, cukup untuk beli satu kambing.”
Saya tahu Yu Timah amat menunggu tanggapan saya. Bahkan dia mengulangi
kata-katanya karena saya masih diam. Karena lama tidak memberikan
tanggapan, mungkin Yu Timah mengira saya tidak akan memberikan uang tabungannya.
Padahal saya lama terdiam karena sangat terkesan oleh keinginan Yu Timah membeli
kambing kurban.
”Iya, Yu. Senin besok uang Yu Timah akan diberikan sebesar enam ratus
ribu.
Tapi Yu, sebenarnya kamu tidak wajib berkurban. Yu Timah bahkan wajib
menerima kurban dari saudara-saudara kita yang lebih berada. Jadi,
apakah  niat Yu Timah benar-benar sudah bulat hendak membeli kambing kurban?”
”Iya Pak. Saya sudah bulat. Saya benar-benar ingin berkurban. Selama
Ini memang saya hanya jadi penerima. Namun sekarang saya ingin jadi pemberi
daging kurban.”
”Baik, Yu. Besok uang kamu akan saya ambilkan di bank kita.”
Wajah Yu Timah benderang. Senyumnya ceria. Matanya berbinar. Lalu minta
diri, dan dengan langkah-langkah panjang Yu Timah pulang.
Setelah Yu Timah pergi, saya termangu sendiri. Kapankah Yu Timah
mendengar, mengerti, menghayati, lalu menginternalisasi ajaran kurban yang
ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim? Mengapa orang yang sangat awam itu bisa punya
keikhlasan demikian tinggi sehingga rela mengurbankan hampir seluruh hartanya?
Pertanyaan ini muncul karena umumnya ibadah haji yang biayanya mahal itu
tidak mengubah watak orangnya. Mungkin saya juga begitu. Ah, Yu Timah,
saya jadi malu. Kamu yang belum naik haji, atau tidak akan pernah naik haji,
namun kamu sudah jadi orang yang suka berkurban. Kamu sangat miskin, tapi
uangmu tidak kaubelikan makanan, televisi, atau pakaian yang bagus. Uangmu
malah kamu belikan kambing kurban. Ya, Yu Timah. Meski saya dilarang dokter
makan daging kambing, tapi kali ini akan saya langgar. Saya ingin menikmati
daging kambingmu yang sepertinya sudah berbau surga. Mudah-mudahan kamu mabrur
sebelum kamu naik haji.

Lebih Baik memberi Dari pada menerima

Taken From dari RESONANSI – Republika Desember 2006/Ahmad Tohari

Advertisements

Written by isal

18 December 2007 at 18:24

Posted in Obrolan

Tagged with , , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: