Diary of an IT Guy

Heart passion to keep the brain moving>>>

Qurban Terbaik

with 2 comments

Menjelang hari raya qurban ini, berikut saya sampaikan sepenggal kisah qurban yang mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi kita semua. Intinya kita harus menjadi orang yang pandai bersyukur. Qurban tinggal sebentar lagi. Moga Allah menjadikan kita hamba yang pandai mensyukuri nikmatnya. Sekecil apapun. Ya kita sama-sama sedang belajar ke arah sana.

 Qurban Terbaik

Saat menjelang pelaksanaan Idul Qurban, kebetulan saya
ditunjuk menjadi salah satu panitia Qurban di
kantorku. Kebetulan pada tahun 2006 lalu, terjadi dua
kali berqurban, tepatnya qurban pertama di awal bulan
Januari 2006.

Saat pulang kerja, saya bersama rekan pergi untuk
membeli hewan Qurban di salah satu penjual hewan
Qurban untuk membelanjakan hewan qurban dari dana yang
dititipkan panitia kepada saya

Tiba di tempat penjual hewan Qurban, terlihat penjual
hewan Qurban sangat sibuk melayani para pembeli yang
datang. Begitu pula dengan para pembeli yang sibuk
memilih dan menawar harga hewan Qurban yang terbaik
untuk memenuhi seruan ber-Qurban di hari raya nanti.

Saya pun terpaksa harus menunggu lama sambil
melihat-lihat hewan Qurban yang ada di lokasi. Namun,
diantara para pembeli yang sedang antri, mata saya
tertuju pada seorang ibu tua yang sedang memikul bakul
jualan berisi sapu lidi, kemoceng dan barang lainnya.

Terlihat dengan sabar, si ibu tua itu berdiri
melihat-lihat para pembeli yang sibuk memilih hewan
Qurban dan menawar harga kepada si penjual.

Setelah itu tiba giliran penjual Qurban melayani saya
dan kawan panitia lainnya. Setelah memilih hewan
Qurban dan harga yang cocok, lalu si penjual hewan
Qurban itu mengambil kwitansi pembelian untuk saya.

Selagi menunggu si penjual Qurban membuatkan kwitansi,
lalu saya pun menghampiri si Ibu tua tadi dan
menanyakan apa keperluannya hingga rela berlama-lama
menunggu di sana.

Dalam hati saya, mungkin si Ibu tua itu mau meminta
sedekah dari penjual hewan Qurban itu. Namun, alangkah
terkejutnya saya, ketika mendengar jawaban dari si ibu
tua itu kalau dirinya juga ingin membeli hewan Qurban
buat dikurbankan atas nama dirinya sendiri.

“Alhamdulillah kasep (panggilan kasih sayang di daerah
jawa barat), Ibu ini sudah beberapa tahun terakhir
rutin membeli kambing Qurban,” ujarnya. “Bagaimana
caranya Ibu dapat membeli kambing Qurban, kan
pekerjaan Ibu hanya penjual kecil-kecilan,” tanyaku
hati-hati kepada si Ibu tua.

Lalu, nggak berapa lama si Ibu tua itupun menjelaskan
bahwa setiap hari dirinya menyisihkan seribu hingga
dua ribu perak dari keuntungannya berjualan.
“Alhamdulillah, kalau lagi laku banyak, Ibu suka
menyisihkan tiga ribu sampe lima ribu perak kasep,
tapi itu jarang sekali kasep,” lanjut si Ibu tua.

“Kalau sehari seribu, dua ribu, atau tiga ribu perak.
Maka dalam setahun Ibu bisa ngumpulin uang sekitar 700
ribu lebih. Nah, jadi cukup buat beli kambing Qurban
yang terbaik menurut ibu,” kata Ibu tua menjelaskan.

Duhhh…Nyess banget rasanya hati ini…saya pun hanya
bisa terdiam mendengar cerita si Ibu tua itu. Jika si
ibu tua itu saja dengan telatennya menyisihkan
keuntungannya dalam berjualan setiap harinya demi
keinginan besar untuk bisa berQurban setiap tahunnya.

Seharusnya, berarti tidak ada alasan bagi saya dan
bahkan mereka yang kaya untuk tidak melaksanakan
ibadah Qurban setiap tahunnya pula. Saya tidak perlu
mengumpulkan uang bila ingin membeli kambing Qurban,
seperti yang dialami si Ibu tua itu.

Apalagi penghasilan saya bisa dikatakan diatas
rata-rata yang lainnya, bahkan tidak saja bisa membeli
Kambing qurban, tapi saya pun seharusnya bisa membeli
Sapi Qurban. Mungkin saya hanya perlu menahan
keinginan untuk makan makanan mewah seperti fast food,
nginap di hotel berbintang lima, nonton di bioskop 21
ataupun membeli accessories kendaraan lainnya.

Hal itulah yang jadi perenungan saya dalam setahun
terakhir ini. Bila saja si ibu tua itu harus
menyisihkan seribu, duaribu bahkan lima ribu perak
dari hasil keringatnya memikul barang jualan setiap
harinya, yang paling-paling hanya dapat untung 10 ribu
sampe 20 ribu rupiah.

Maka, apakah saya sudah cukup berani dan lapang hati
serta ikhlas untuk menyisihkan 10 persen dari
penghasilanku setiap bulan untuk meraih cinta Allah
dalam berqurban.

Sungguh aku belum bisa seperti si Ibu tua itu, yang
dengan ikhlas menqurbankan hewan terbaiknya sesuai
kemampuannya. Seharusnya pun saya bisa mengurbankan
hewan qurban yang terbaik juga sesuai kemampuan saya.

Jujur saja, saya belum segagah si ibu tua itu, yang
kuketahui namanya Ummi Kultsum, 71 tahun dengan 7
orang anak dan 18 cucu ini. Beliau juga sering menjual
makanan kering, donat, risol, nasi uduk di rumahnya
yang sederhana (cerita dari si Ibu tua).

Oleh: Rama Arjuna

Advertisements

Written by isal

7 December 2007 at 09:39

Posted in Obrolan

Tagged with , , , ,

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] Qurban terbaik […]

  2. Alhadulillah. Allah takdirkan kita untuk merayakan qurban dan ber-qurban tahun ini. Moga kita selalu termasuk kedalam golongan orang-orang yang selalu bersyukur atas nikmat-Nya. Happy eid mubarak!

    isal

    8 December 2008 at 12:56


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: