Diary of an IT Guy

Heart passion to keep the brain moving>>>

Sikap Konsumtif yang Kembali Mencemaskan

with 2 comments

Oleh Rhenald Kasali

Di salah satu kelas yang saya asuh, suatu ketika saya mengajukan
pertanyaan sederhana tentang komposisi pengeluaran mahasiswa.
Ternyata rata-rata mahasiswa menghabiskan sekitar 45-50 persen dari
uang sakunya untuk komunikasi (pulsa telepon dan pirantinya).

Hal ini ternyata juga konsisten dengan yang kita saksikan di berbagai
rumah tangga. Pembantu rumah tangga kita dan kaum muda yang tinggal
di daerah perkampungan ternyata sama saja. Sampai-sampai suatu ketika
seorang menteri pernah berujar, telekomunikasi, khususnya pulsa
telepon, telah menjadi vacuum cleaner yang menyedot uang dari kantong-
kantong perekonomian ke pusat.

Bagaimana perilaku kalangan yang lebih mapan? Sebuah studi yang
dilakukan oleh Euromonitor International menunjukkan, dalam kurun
waktu 25 tahun (1990-2015), rumah tangga Indonesia mengalami revolusi
konsumsi yang luar biasa.

Belanja konsumen untuk produk air conditioner naik 332 persen, cable
TV naik 600 persen, kamera naik 471 persen, sepeda motor naik 17.430
persen, mesin cuci piring naik 291 persen, dan telepon naik 1.643
persen.

Konsumsi seperti di atas adalah paradoks bagi perekonomian Indonesia.
Di satu sisi ia telah menyumbang sebanyak 70 persen dari pertumbuhan
ekonomi Indonesia (Euromonitor, 2006), sedangkan di lain pihak
dianggap dapat merusak masa depan bangsa, karena dapat menghambat
pemupukan modal serta memicu tindakan-tindakan korupsi, kolusi,
nepotisme dan kriminalitas.

Untuk meracik obat penangkal penyakit sosial ini, pertama-tama kita
tentu harus memotret perilaku konsumen Indonesia. Ada dua hal yang
mungkin luput dari perhatian kita, yaitu perbedaan kelas sosial yang
menonjol dan sikap mental yang bangga berutang.

Pemicu efek demonstratif

Sejak pembangunan ekonomi didengungkan rasanya kita belum pernah
mendengar upaya yang serius untuk menciptakan kelas menengah yang
tangguh. Yang kita dengar selalu adalah upaya pemberantasan
kemiskinan. Meski hal ini penting, politik keduanya tentu berbeda.

Kelas menengah yang kuat merupakan benih bagi tumbuhnya demokrasi
sekaligus penjaga rasa keadilan dan kesetaraan dalam masyarakat.
Lebih jauh, secara otomatis dapat mengurangi perasaan-perasaan
negatif yang muncul dari kecemburuan sosial.

Di negeri ini, Anda dapat dengan mudah melihat keragaman segmen dan
gap yang sangat signifikan di antara masing-masing segmen itu.
Perbedaan itu pada akhirnya menjadi pemicu tumbuhnya spirit
materialisme.

Derajat seseorang dinilai berdasarkan apa yang Anda miliki atau yang
apa yang Anda pakai. Untuk menunjukkan jati dirinya orang cenderung
berbelanja berlebihan.

Prinsip ini berbeda benar dengan upaya membangun karakter bangsa yang
menekankan pada kekuatan jati diri, mulai dari kematangan berpikir,
kerendahhatian, pendidikan, dan kepedulian sosialnya.

Di hampir semua negara berkembang, gejala materialisme umumnya juga
terjadi. Namun, perjuangan untuk melahirkan kelas menengah yang kuat
patut ditiru. Bahkan di negara-negara maju sikap seperti itu menjadi
lebih jelas lagi.

Kita sering merasa risi melihat tokoh-tokoh bisnis terkenal yang
mengendarai kendaraannya sendiri, bahkan membawa tasnya sendiri dan
bahkan tidak menggunakan aksesori mewah untuk menjelaskan siapa diri
mereka.

Namun, mereka dapat dibaca dari karya-karyanya di tengah masyarakat,
dari buku-buku yang mereka tulis dan sebagainya. Perilaku ini tentu
berbeda dengan perilaku sebagian profesi yang sedang hot pada
zamannya di sini. Lihatlah bagaimana pengacara saat ini, atau para
akuntan, bankir, dan pelaku pasar modal di era tahun 1990-an.

Begitu bayaran profesi mereka meningkat, maka maraklah efek
demonstratif di kalangan itu. Seakan-akan menunjukkan kesuksesan
mereka dapat dengan mudah dilihat dari apa yang mereka kenakan.

Tanpa disadari perilaku konsumtif ini menimbulkan efek domino yang
menular pada kelompok-kelompok lainnya yang basis pendapatannya
rendah. Mereka terdorong berbelanja di luar batas kemampuannya.

Sikap itu bukan hanya tampak pada konsumsi yang kasatmata saja,
melainkan juga pada pilihan sekolah anak-anak dan rumah bersalin bagi
istri.

Gejala demonstratif ini kalau ditelusuri ke belakang sebenarnya bukan
hal yang baru, yang nyaris tak ada bedanya dengan orang-orang dulu
yang menunjukkan kekayaannya lewat gigi emas, gelang-gelang besar,
atau jumlah istri yang bisa mereka kawini.

Simbolisme status ini kemudian menular kepada masyarakat menengah
bawah, sehingga wajarlah bila Euromonitor (2006) menulis “having a
mobile phone is regarded not only as a necessity, but also as a
symbol of status by many in the lower income groups. Even in the
upper income groups, using a high-end mobile phone is a symbol of
status.”

Bangga berutang

Potret buram sikap konsumtif bangsa kita dikomentari Euromonitor
(2006) yang mencatat sebagai “borrow money now, think about paying
later”. Tadinya saya berpikir perilaku ini perlahan-lahan mulai
terkikis. Nyatanya tidak. Marilah kita lihat data di bawah ini.

Penggunaan kredit konsumsi di Indonesia ternyata naik dramatis dari
Rp 297,586 triliun (tahun 2000) menjadi Rp 566,896 triliun (2004).
Ada dua kontributor terbesar di sini, yaitu consumer credit (kredit
konsumsi) dan leasing. Consumer credit tumbuh dari Rp 74,330 triliun
(2000) menjadi Rp 323,755 triliun (2004). Sedangkan leasing naik dari
Rp 143,894 triliun (2000) menjadi Rp 156,163 triliun (2004).

Di sini ada keterkaitan antara mental (bangga) berutang dengan
konsumsi untuk prestise, terutama bagi segmen usia 29-50 tahun.
Ternyata ada dua jenis aset yang sangat diidam-idamkan masyarakat
kita sebagai indikator bahwa dirinya orang sukses, yaitu pembelian
melalui kredit kepemilikan rumah (KPR) atau kredit kepemilikan mobil
(KPM).

Fakta lain adalah pertumbuhan kartu kredit yang sangat mengesankan.
Belanja melalui kartu kredit yang berjumlah Rp 30,080,0 triliun
(2004) diramalkan akan melonjak menjadi Rp 52,948,2 triliun (2009).
Jumlah nilai transaksi yang berlari kencang ini selaras dengan
proyeksi jumlah kartu kredit yang beredar.

Apabila tahun 2004 hanya ada 8,1 juta kartu, maka diproyeksikan naik
menjadi 20,7 juta kartu pada tahun 2009. Ini adalah suatu jumlah yang
sangat mengesankan sekaligus meresahkan.

Apa jadinya kalau orang mengutang tetapi mereka belum mampu
membayarnya? Saya cuma membayangkan betapa banyak sahabat dan kerabat
yang lari tunggang langgang dikejar penagih utang (debt collector)
yang wajahnya seram-seram dan kata-katanya kasar.

Kembali ke patron dan klien

Sikap seperti itu dapat kita telusuri melalui hubungan patron-klien
yang dulu pernah ramai kita bicarakan. Para patron, bangsawan beneran
atau bangsawan pengusaha, memiliki gaya hidup yang dapat menimbulkan
kecemburuan bagi segmen di bawahnya. Kecemburuan ini menimbulkan
peniruan. Konsumen jelata yang pas-pasan kini berani berutang dalam
jumlah yang sangat berani.

Sekarang kembali kepada para patron Indonesia. Apakah mereka cukup
legowo untuk menjadi contoh bagi masyarakat. Dulu Bung Hatta yang
begitu bersahaja mampu membuat banyak orang segan show off karena
pemimpinnya saja tidak berperilaku demikian.

Kalau contoh itu dianggap kuno, marilah kita mengacu ke negara maju.
Sebut saja Bill Gates atau Gorge Soros, orang-orang terkaya di
Amerika Serikat. Mereka sering diceritakan memilih mengendarai
mobilnya sendirian. Perilaku Bill Gates ini cukup membuat minder
orang kaya lainnya, dan kemudian berdampak lebih luas pada konsumen
jelata.

Rhenald Kasali
Ekonom Universitas Indonesia

Advertisements

Written by isal

8 June 2007 at 09:58

Posted in Obrolan

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Moga artikel ini selalu mengingatkan saya untuk terus rasional dalam mengatur keuangan keluarga. Makasih ya bang Rhenald. Sangat bermanfaat sekali.

    isal

    8 June 2007 at 09:59

  2. thanks, berguna banget untuk bahan karya tulis 🙂

    gledis

    21 July 2010 at 15:32


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: