Diary of an IT Guy

Heart passion to keep the brain moving>>>

Mencari Uang atau Mencari Prestasi

with 4 comments

Sering kali kalau saya meng-interview seseorang karyawan baru khusus untuk
departemen kami, senantiasa terlontar sebuah pertanyaan sangat menentukan
sikap. Saya menanyakan, apa alasan ybs mau bekerja di perusahaan/departemen
kami.

Jawaban sangat bervariasi dan sebagian besar menjawab dengan klise seperti
“untuk menambah pengalaman”, “menambah ilmu” dsb. Mereka biasanya setelah
diberikan kesempatan untuk memperjelas alasan yang tepat, akhirnya
ujung-ujungnya mengatakan “mencari uang”.

Nah, disini saya selalu terkenang akan masa lalu dimana setelah lulus S1,
saya tidak memiliki kesempatan untuk melanjutkan S2 karena memang kebutuhan
akan uang tidak tercukupi bila harus memaksakan diri “mencari ilmu”. Tetapi
saya berhasil “menghibur diri” dengan menggunakan alasan logika, bahwa
dimana tempat saya bekerja dan berkarir adalah S2 saya dan begitu seterusnya
karena keinginan saya untuk mau terus belajar entah sampai kapan…

Kembali dengan interview, mereka biasanya mencoba merenungkan ide saya sbb:
Bagaimana bila Anda merefleksikan sikap “mencari uang” itu kedepan. Mereka
saya ijinkan memperkirakan apa yang dijawab seorang maling yang diinterogasi
oleh polisi. Ya mungkin dengan cara yang lebih keras supaya sang tawanan tsb
menjawab “mengapa mencuri”. Tentu saja mereka dan Anda juga bisa menjawabnya
dengan mudah bukan? Mereka “butuh/mencari uang” untuk hidup…

Saya selalu mencoba mengingatkan, bahwa tentu saja ucapan “mencari uang”
tidak salah, tetapi akan menjadi bumerang bila mereka ucapkan dengan penuh
motivasi yang serius atau menjadi keinginan! Otak kita sangat pintar,
sehingga bila ada instruksi/motivasi yang masuk dengan sadar dan tidak sadar
otak kita akan bekerja dengan keras mengejar target tersebut, misalnya
“mencari uang”. Maka amat sangat mungkin tahap-tahap yang terjadi bisa saja
sbb: mulai menghitung-hitung untung-rugi antara gaji dan jam kerja,
meng-korupsi waktu dan akhirnya materi. Hal ini biasanya akan menimbulkan
stress yang tidak sehat. Otak kita akhirnya me”rekomendasi”kan atau “tidak
bisa lagi membedakan” mana uang pribadi dan uang perusahaan.

Dan biasanya Boss/Owner Perusahaan pastilah bukanlah orang bodoh, dia
justeru akan main lebih sadis dengan perhitungan untung-rugi dengan
karyawan. Bisa ditebak juga bukan bila hal ini terjadi siapa yang bakal
lebih “pintar” yang bakal mendapatkan keuntungan? Bila pun didapat, bukankah
itu dari hasil yang tidak FAIR? Dan bila sang karyawan dan pimpinan jadi
“adu ulet” maka bisa dibayangkan sirkuit lingkaran setan yang dibentuk.

Biasanya, sang karyawan baru akan tercenung, dan disinilah saya membagikan
tips agar sang karyawan bisa lebih berdaya guna:

Saya menceritakan kasus saya ketika ingin belajar lebih lanjut tapi nggak
punya uang seperti diatas, lalu bertekad belajar dimanapun saya mendapat
kesempatan. Dan biasanya saya ajak sang karyawan mau belajar atau tidak
dengan tips ini.

Di tempat kerja atau “kampus” baru ini sang karyawan adalah “siswa” dan saya
menjadi pembimbing/guru yang bertanggung jawab atas karir/study ybs. Karena
toh, dimana-mana ya memang seorang pemimpin harus mengajar dan membimbing
bukan? Bila ybs berprestasi, akan disediakan Promosi dan kemungkinan “naik
kelas”. Bagi para Pemimpin, poin ini sering dilepas, dia mengajar tetapi
tidak mengikat sang karyawan untuk tetap semangat belajar selama masih
bersama-sama.

Menggunakan logika, bahwa karena ybs belajar maka mendapatkan istilah “uang
jajan” sebagai pengganti istilah “gaji”. Dari poin ini saja otak kita
rasanya langsung lebih lega karena tidak lagi berhitung-hitungan dengan
input-output kerja. Bahkan di “kampus” baru ini ybs tidak perlu membayar
uang kuliah tetapi justeru menerima seluruh perangkat “belajar”nya dia
seperti: seragam, komputer, ruangan dsb.

Selalu saya tanyakan, apakah uang jajan saat sekolah/kuliah lebih besar atau
tidak dengan “uang jajan” yang dia terima di “kampus” ini. Untuk yang ini
jawaban mereka 100% setuju bahwa “uang jajan” mereka sudah lebih baik.

Istilah “belajar” dan “kampus” baru buat seorang yang serius akan berdampak
dahsyat seperti: kita akan menemukan bahwa otak kita bila sedang belajar
akan menciptakan prestasi-prestasi yang mustahil akan diberikan oleh orang
yang bermotif mencari duit.

Terbukti bukan, saat dulu kita sekolah/kuliah, walaupun berantem atau
dimarahin Guru, demi ilmu kita tetap masuk dengan semangat untuk lulus
bukan? Bahkan untuk tim kami disinilah kami membuat prestasi saat dulu
kuliah menjadi juara LKIP tingkat Nasional, padahal modal kami cuma satu
BELAJAR.

Karyawan-karyawan di departemen kami mencapai rekor tertinggi dalam sejarah
perusahaan, yaitu melakukan penjualan lebih dari 10 kali target!

Sebagian model seperti ini juga kami praktekkan di tempat dimana kami
ber-organisasi, bahkan juga saat kami memberikan konseling dan program TRAIN
the TRAINER. Bahwa semua anggota tim bisa lebih sukses dari pada saya
sendiri dan karena tanpa pamrih, saya hanya bisa terus menyampaikan model
“BELAJAR” seperti ini dimana pun dan pasti SUKSES. Salah seorang “office
boy” kami telah menjadi National Sales Manager dalam waktu 10 tahun.

Sangat banyak alasan yang diberikan orang ketika mereka sudah capek-capek
lulus kemudian dengan mudahnya mengganti motivasi yang benar dengan
motivasi/keinginan mencari uang.

Coba renungkan, kalau Tuhan demikian besar dan dahsyat menurut ukuran
orang-orang beriman, apakah layak motivasi utama seseorang bekerja adalah
hanya “mencari uang”? Bukankah seharusnya bisa lebih baik dari makhluk
lainnya yang memang dipersiapkan hanya untuk “mencari makan”.
Saya banyak bertanya kepada para orang tua dan pembina rohani berbagai
kalangan, ternyata ini adalah salah satu dosa turunan Feodalisme. Bayangkan
setelah 350 tahun dijajah, inilah paradigma yang keluar dari para generasi
tua kepada yang muda: “cepat belajar dan lulus supaya bisa cari uang”…

Mungkin, sekedar membandingkan, kalau sungguh2 para generasi tua maunya
begitu, sebaiknya jangan sekolahkan mereka, karena tidak mungkin balik
modal! Coba bayangkan, uang pangkal SD saja sudah 5-10 juta. Kuliah di UI
saja butuh Rp. 150 juta. Sedangkan lulusan Sarjana sudah jamak bersedia
dengan gaji di bawah UMR. Sebaiknya, mulai sekarang investkan uang
pangkal/sekolah mereka dengan sesuatu buat mereka yang nanti langsung bisa
jualan kalau sudah besar, seperti misalnya (maaf) warung.

OK, menurut saya, sudah waktunya OTAK kita diberikan tugas yang lebih mulia
yaitu “BELAJAR”. Karena saat seseorang belajar, prestasi pasti mengikuti.
Dan saat belajar dan bekerja, maka setiap orang pasti menerima UPAH bukan?
Jadi, ajak generasi sekarang memutuskan rantai/kuk “mencari uang” karena itu
buat makhluk yang kesulitan memahami apa arti belajar. Tips Ini bagi yang
sedang bekerja.

Nah, TIPS bagi yang sedang mencari kerja, coba renungkan baik-baik apa
jawaban yang harus disiapkan bila di-interview, yaitu APA KEBUTUHAN ANDA
YANG PASTI MENGUNTUNGKAN DAN TIDAK MERUGIKAN PERUSAHAAN?. Jangan lagi
bersilat kata karena bila kita tidak siap mental, sang interview dengan
mudah me”nekan” Anda sehingga Anda merasa sangat “murah” dimata sang
interview. Bila ini yang terjadi, maka dalam proses transaksi, sulit untuk
dikatakan kondisi tersebut “win-win”.

Bila Anda masih kesulitan untuk membersihkan “suara-suara” yang meminta Anda
untuk segera “mencari uang”, perbanyaklah doa dan baca kitab suci kemudian
bila sempat diskusikan dengan kami untuk dibantu mengenal Talenta-talenta
yang Tuhan berikan sebagai saran pembelajaran dan pe-lipat-gandaan prestasi
Anda di dunia ini.

Akhir kata, para rohaniwan selalu berkata, bahwa belajar itu adalah perintah
dari Kitab-kitab Suci. Dan bekerja adalah IBADAH. Jadi renungkanlah,
benarkah kita boleh “mencari uang” di dalam Ibadah Suci kita? Bukankah UPAH
itu pasti diberikan ,bukan dicari, bagi yang BEKERJA (baca: BERIBADAH)?

Note: Cerita ini merupakan kisah nyata penulis saat belajar ilmu “Tahu Diri”

Stasia
Kenali Kekuatan anda melalui http://www.profilpribadi.com/?id=sdb

Advertisements

Written by isal

22 May 2007 at 12:34

Posted in Power

Tagged with , , , , , , ,

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Cerita di atas persis seperti apa yang saya alami ketika kuliah dan setelah lulus kuliah dulu tahun 2003. Tahun lulus adlah tahun dimana penuh perjuangan dan keras keringat untuk mnentukan apa masa depanmu nak. Saya sadar untuk entry level seperti saya waktu itu yang penting adalah apapun itu pekerjaannya yang penting cocok dan dapatkan pengalaman terlebih dahulu sbelum bisa melompat ke tingaktan karir berikutnya. Memang dari intropeksi diri segala sesuatunya itu datang dari hasil silaturahmi, doa dan usaha. Insya Allah apa yang kit ainginkan akan datang juga. Dan saya percaya akan firman allah dalam Al-quran tentang rahsia nikah dimana kalau kita tetap konsisten dan yakin, Insya ALlah rezeki Allah maha luas dan tak terbatas.

    isal

    8 June 2007 at 10:07

  2. dapatkan ebook penting di http://www.sangatpenting.com

    nin

    18 October 2007 at 10:34

  3. bagaimana caranya berkenalan dimana saja

    Mungkin anda tahu..cara yg umum seperti ini
    a: hai..boleh kenalan ga..??
    atau eh kamu cantik dech..nama mu siapa??

    jangan sekali-kali memulai percakapan dgn seperti itu, karena dia akan bt dan bosan mendengarnya.
    apalagi wanita cantik sudah sering mendengar itu.

    lalu bagaimana caranya yg tepat..
    jawabannya tidak bisa dibeberkan disini.
    klik saja http://www.sangatpenting.com

    semoga berguna

    nin

    18 October 2007 at 10:39

  4. Menarik sekali, saya setuju.

    Saat ini Fresh Graduate ataupun lulusan sekolah dicekoki dengan keinginan “pemburu uang”.

    Beberapa malah merasa gelar mereka (S2 luar negeri, lulusan terbaik Univ. ternama anu) adalah “investasi besar” yang seharusnya mendapatkan “bayaran lebih tinggi”.

    Namun mereka tidak tahu bahwa pengalaman dan kemampuan lah yang membuat harga seseorang lebih tinggi.

    Seharusnya jika mereka merasa dan membuat “belajar di kantor” adalah babak selanjutnya dari rangkaian “belajar di sekolah” dan “belajar di kampus”, maka mereka pasti paham dengan lebih baik…

    Salam profilpribadi !!
    http://www.profilpribadi.com/?id=profilpribadi

    Luki Tantra

    14 April 2008 at 14:13


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: