Diary of an IT Guy

Heart passion to keep the brain moving>>>

Self Starting : Menjadi Manusia Super Bintang

with one comment

Kita tentunya akan selalu ingat akan peribahasa “gantungkan cita-citamu setinggi langit”. Sebuah peribahasa yang menyatakan akan sangat berharganya ketinggian bintang dan juga menggambarkan kaitan antara kesuksesan atau tercapainya cita-cita dengan istilah bintang. Berbicara tentang bintang berarti berbicara tentang kelas tertentu dalam derajat kemanusiaan. Biasanya bintang menjadi panutan, sorotan banyak orang, sesuatu yang menggambarkan kehebatan, kualitas, kebesaran manusia.

Orang-orang yang terkenal, orang cantik dan ganteng, orang yang menjadi teladan selalu menjadi bintang. Kita mengenal adanya bintang film dalam dunia film, kita mengenal adanya bintang radio dalam dunia radio, kita mengenal adanya bintang lapangan dalam dunia sepakbola, basket dan olah raga lapangan lainnya, kita mengenal adanya bintang pelajar di sekolah. Sampai-sampai orang-orang yang hebat tadi kalaupun jadi tamu dalam acara diberi gelar sebagai bintang tamu.

Dunia telah mencatat Pele sebagai bintang lapangan sepakbola, Michael Jordan sebagai bintang bola basket serta berbagai nama bintang dalam berbagai bidang lainnya.

Pertanyaan yang dulu sering muncul dalam benak saya ketika mengamati bagaimana kehebatan orang-orang yang menjadi bintang adalah apakah mungkin kita dapat menjadi bintang?

Bagi orang-orang yang dilahirkan dengan karunia besar dari Pemilik Kehidupan, dilahirkan dalam keluarga dengan sumber daya yang melimpah, dilahirkan dengan wajah cantik atau ganteng, dilahirkan dengan penuh bakat. Bagi mereka untuk menjadi bintang bukanlah hal yang sulit. Bagi orang-orang yang dilahirkan dengan kemampuan atau sumber daya besar atau oleh penulis sering disebut sebagai “kapasitas takdir” yang besar, tanpa kerja keras, tanpa pengorbanan, tanpa banting tulang, tanpa kesulitan mereka mempunyai peluang besar untuk dapat menjadi bintang.

Lantas bagi kita, bagi orang-orang yang lahir dan hidup dari keluarga dengan sumber daya terbatas dan tidak besar, dapatkah kita menjadi bintang?

Selama menjalani kehidupan sebagai “gelandangan intelektual” (orang intelek namun hidup seperti gelandangan) sungguh sangat menyakitkan melihat kondisi masyarakat sekarang, masyarakat yang mayoritas hidup dengan keterbatasan telah menyerah dari sejak awal terhadap keterbatasan tersebut. Diantara mereka banyak yang apatis terhadap kata “bintang”. Mereka yang wajahnya tidak cantik atau ganteng, bagi mereka yang kekurangan harta, tidak bermobil, tidak punya relasi orang hebat dan lain-lain. Mereka merasa bahwa keterbatasan sumber daya atau kapasitas takdir yang rendah telah menutup kemungkinan untuk menjadi “bintang”. Kadang di antara mereka banyak yang menyalahkan keterbatasan tersebut, putus asa dan menganggap keterbatasan dan kapasitas takdir yang rendah tersebut sebagai biang kerok keterpurukan hidupnya. Itulah gambaran orang-orang yang lemah dengan keterbatasan, kebodohan, kemiskinan,dan kesulitan. Itulah potret manusia lemah yang sempat saya saksikan dalam kehidupan nyata di lapangan kehidupan yang semakin keras, amburadul dan sewenang-wenang.

Dalam banyak kesempatan penulis sering mengingatkan mereka bahwa selayaknya mereka harus bersyukur dengan keterbatasan atau kapasitas takdirnya yang rendah, karena dengan itu mereka mempunyai peluang untuk menjadi manusia “super bintang”, manusia yang lebih hebat , lebih hebat, lebih berkualitas dibandingkan dengan para “bintang”.

Orang -orang yang mempunyai kapasitas takdir yang besar, bagi mereka kecil sekali peluang untuk menjadi mausia “super bintang”, apalagi kalau dalam bidang dan kekuatannya, paling hebat bagi mereka adalah menjadi manusia “bintang”.

Kesedihan saya senakin menyesakkan dada, karena sungguh sangat disayangkan orang-orang yang mempunyai kapasitas takdir yang besar , mereka tidak mau menaikkan “kapasitas pilihannya”, mereka tidak mau berusaha keras untuk menjadi bintang padahal mereka sudah tidak mempunyai peluang untuk menjadi manusia super bintang dalam bidang dan kekuatannya. Harusnya dalam keadaannya tersebut mereka bersedih dan melakukan perubahan diri serta lebih semangat dan serius untuk meraih sukses, karena sehebat-hebatnya dirinya paling hanya akan menjadi bintang. Harusnya mereka malu kalau tidak berhasil menjadi bintang karena sudah diberi modal atau kapasitas lebih dibandingkan dengan orang lain. Itulah potret manusia lainnya yang penulis temukan dan kategorikan sebagai manusia malas, potret manusia yang penulis temukan ketika berinteraksi dan berkumpul dengan orang yang dilahirkan bersama kapasitas takdir yang besar.

Untuk itu berbahagialah, bersyukurlah, bersemangatlah wahai orang-orang biasa, orang-orang kecil, orang-orang bodoh, orang-orang miskin, orang-orang yang tidak ganteng, orang-orang yang tidak cantik dan orang-orang yang tidak berbakat. Ketahuilah bahwa kapasitas takdir yang rendah itu adalah anugrah dan kasih sayang dari Pemilik Kehidupan. Bodoh, kecil, buruk, terbatas, miskin itu adalah indah.

Gede Prama yang sering disebut sebagai Steven Covey-nya Indonesia pernah menulis tentang “Kalah itu Indah” dan “Bodoh itu Indah”. dalam tulisan “Bodoh itu Indah”, Gede Prama pernah bercerita tentang pameran teknologi mobil di Jerman antara orang Jerman, orang Jepang, dan orang Indonesia.

Orang Jepang dengan bangganya bercerita bahwa mereka telah berhasil menciptakan remote-control mobil yang kalau ditekan tidak hanya membuka kunci namun sekaligus mesinnya hidup. Orang Jerman tak mau kalah, dengan lebih bangga mereka berkata bahwa teknolgi remote-control mereka dapat membuka pintu secara otomatis. Kemudian giliran orang Indonesia dengan keterbatasan teknologinya tampil percaya diri dan merasa lebih unggul karena tanpa remote-control secara otomatis menyalakan dan membuka pintu mobil , cukup hanya dengan melambaikan tangan..mobil datang sendiri mendekat, pintu terbuka sendiri dan mobil jalan sendiri tanpa ia setir. Lebih hebat khan?, tentunya anda dapat menjawab sendiri kenapa?

Walau itu hanya sebuah humor tapi dapat menjadi gambaran bahwa dengan kapasitas takdir yang rendah kita akan lebih mudah bersyukur dan merasakan nikmatnya hidup dengan berbagai keadaan.

Banyak orang kaya merasa enak dan nikmat makan setelah keluar uang ratusan ribu rupiah bahkan ada yang jutaan ribu rupiah. Di lain pihak saya saksikan sendiri dan merasakan sendiri bagaimana lahap dan cerianya wajah para pekerja di rumah saya saat makan walaupun hanya dengan ikan asin peda sekalipun. Dan ketika saya diberi kelebihan rizki oleh Sang Pemilik Kehidupan, saya bagikan keapda mereka makanan yang relatif lebih bagus namun lebih murah dari yang biasa dimakan oleh orang-orang kaya

Memancar dari wajah mereka ucapan terima kasih yang begitu tulus dan penuh kesyukuran atas nikmat yang diperolehnya. Dengan demikian justru dengan kebodohan, dengan keterbatasan, dengan kemiskinan saat dilahirkan akan membuat luas ladang kenikmatan yang kita miliki. Tapi untuk selanjutnya tidaklah cukup sampai di situ, mereka harus juga melakukan perubahan dan memanfaatkan luasnya ladang kenikmatan sebagai dampak luasnya pilihan kehidupan bagi mereka.

Anda yang tidak cantik jangan merasa bersedih, seharusnya Anda kasihan pada Tamara Blezinsky, Maudy, Inneke dan bintang film lainya, karena mereka tidak mungkin menjadi super bintang dalam hal kecantikan.

Anda yang miskin jangan merasa tersiksa, seharusnya Anda kasihan kepada orang-orang yang dilahirkan dari keluarga kaya. Kasihan pada Tommy, Mbak Tutut dan anak-anak para pejabat dan pengusaha lainnya, karena mereka tidak dapat menjadi “super bintang” dalam hal kekayaan.

Bagi mereka yang dikaruniai kapasitas takdir yang besar jangan pula bersedih bahwa Anda sama sekali tidak dapat menjadi manusia super bintang. Anda bisa melihat perjalanan hidup Inneke Koesherawati, walaupun memang ia tidak dapat menjadi super bintang dalam hal kecantikan karena sudah dilahirkan sebagai wanita cantik, namun Inneke dapat menjadi super bintang untuk bidang kehidupan lainnya diantaranya dalam hal ibadah dan nilai ketaqwaan yang sedang Ia perjuangkan dan terapkan lewat perubahan diri dan penampilannya. Ketaqwaan yang kalau Inneke berhasil raih tentunya akan lebih berharga dari ketqwaan yang memang diperoleh orang-orang yang hidup dalam lingkungan yang taqwa, berdasarkan potret manusia yang penulis dapatkan. Karena kita tahu bagaimana sepak terjang dan prilaku Inneke sebelum berjilbab.

Ingatlah bahwa Sang Pemilik Kehidupan lebih menghargai proses dibandingkan dengan hasilnya, walaupun hal tersebut tidak dapat dijadikan alasan bagi kita untuk mempunyai hasil yang baik. Sang Pemilik Kehidupan lebih menyukai pengorbanan, kerja keras, kejujuran dan sebagainya. Sang Pemilik Kehidupan lebih menghargai “kapasitas pilihan” dibandingkan dengan “kapasitas takdir”. Kita perlu hati-hati akan kapasitas takdir yang kita miliki karena bisa jadi itu akan menjadi sarana yang menjerumuskan kita pada akhir yang mengenaskan dan abadi.

Wahai orang yang mempunyai kapasitas takdir rendah, Anda seharusnya bangga dilahirkan menjadi orang kecil, orang miskin, orang jelek, Karena dengan demikian Anda mempunyai peluang besar untuk menjadi manusia super bintang.

Sadarilah bahwa hidup ini adalah petualangan dan proses pemilihan, begitu luas dan lapang pilihan bagi orang-orang yang berkapasitas takdir rendah. Orang-orang yang merasa dilahirkan sebagai orang kecil akan mengalami luas dan lapangnya pilihan hidup. Orang kecil secara psikologis mempunyai peluang besar untuk meraih kapasitas pilihan yang besar. Sukses yang diraih berdasarkan kapasitas pilihan merupakan sukses Manusia Super Bintang.

Sayang masyarakat kita banyak yang tertipu oleh arus budaya materialisis yang muncul, termasuk di dalamnya orang-orang kecil sekalipun. Mereka lebih bangga menjadi bintang daripada menjadi manusia super bintang. Kebanyakan dari mereka lebih mengandalkan kapasitas takdir untuk meraih kesuksesan, padahal kapsitas takdir sudah tidak dapat dirubah. jarang sekali yang mau mengandalkan pada kapasitas pilihan, karena memang jika mengandalkan hal demikian kurang mendapat penghargaan di arus budaya materiaistis dan serba artisfisial ini. Sehingga banyak di antara merekayang tidak mau mengandalkan pada kapasitas pilihan dalam meraih sukses. Kerja keras, pengorbanan, tanggung jawab, jujur, gigih dan berbagai karakter positif lainnya akhirnya menjadi barang langka. Di sisi lain , santai, mau hidup tinggal enaknya saja, egois, hura-hura menjadi gaya hidup sehari-hari.

Suatu hal yang penting untuk mempunyai pengetahuan, kesadaran dan kemampuan melaksanakan upaya mempunyai kapasitas pilihan yang besar, sebagai suatu langkah awal menjadi pribadi yang barokah. Pengetahuan, kesadaran dan kemampuan tersebut merupakan Self-Starter yang akan memulai dan menghidupkan potensi diri Anda untuk siap bergerak meraih barokah hidup dalam kondisi apapun.

Kapasitas Takdir

Kapasitas Pilihan

Kecil

Besar

Besar

Super Bintang Bintang

Kecil

Lemah Malas

Asep Chaeruloh AT. CCQ. MM*.

*(Penulis adalah orang kecil yang ingin menjadi manusia super bintang…juga adalah teman baik webmaster, di mana webmaster banyak sekali mendapatkan inspirasi dari beliau untuk mendapatkan Unlimited Power dari sumber yang UNLIMITED ).

Disalin dari publikasi tanggal 25/11/2002 from upk.fi.itb.ac.id/~faisal

Written by isal

30 November 2006 at 08:28

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. terimakasih..
    ini adalah sebuah motivasi yang membuat saya bangkit dan sadar. ternyata orang kecil malah berpeluang menjadi super bintang

    ike

    27 May 2010 at 05:36


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: