Diary of an IT Guy

Heart passion to keep the brain moving>>>

Buku Harian

leave a comment »

Banyak yang bilang saya romantis.Kenyataannya adalah sejak usia sekolah dasar, saya telah memiliki buku harian. Ketika usia remaja buku harian buku harian saya sangat tebal, indah dan wangi. Saya juga menghias tiap lembarnya dengan aneka warna dan gambar, hingga mirip dengan majalah mini. Isinya macam-macam. tentang diri saya, kehidupan, semangat, kesedihan, cinta, prestasi yang saya raih, kesan-kesan dan berbagai peristiwa indah.

Ketika mulai berjilbab, menjelang masuk SMA, buku harian didominasi oleh berbagai peristiwa berhikmah, catatan dakwah, oraganisasi kegiatan yang saya ikuti sampai berfungsi sebagai sarana muhasabah saya, dan lain-lainnya. Pendeknya, tiada hari tanpa menulis buku harian.

Saya biasa merawat dan menjaga baik-baik buku tersebut, dan meletakkannya di tempat yang aman. Apalagi ketika putri saya yang berusia dua tahun, mulai mencari berbagai wadah untuk corat-coret. Dan kreativitas bocah kecil itu membuatnya tak pernah merasa puas dengan kertas corat-coret yang saya sediakan. Juga ketika saya membelikan sebuah buku gambar khusus untuknya.

Putri saya terus mencari wadah lain untuk corat-coret. Maka ketas-kertas kerja suami saya pun mulai diserangnya. Ia juga mulai menggambari tangan, kaki, bahkan wajahnya dengan crayon, atau spidol yang luput dari pengalaman kami. Belum terhitung banyaknya koran atau majalah yang jadi tak terbaca karena ulahnya.

Sampai suatu ketika, saya menemukan ia sedang asyik menggambari…buku harian kesayangan saya!

Saya sudah siap mengekspresikan rasa kesal dan marahdengan berbagai cara. terfikir untuk menegurnya dengan keras, menjewer kuping, atau mencubit pantatnya, agar tahu kesalahan yang dibuatnya. Satu hal yang tak pernah terlintas di benak saya sebelumnya, karena saya dan suami sudah berkomitmen untuk tidak bertindak keras pada si kecil. Tapi apa yang dibuatnya saat ini sudah keterlaluan, dan menurut hemat saya, ia harus tahu bahwa saya marah padanya!

Namun belum sempat saya berbuat apa-apa, bibir mungilnya yang tadi tesenyum melihat kedatangan saya, segera menekuk ke bawah…siap menagis. Tubuh gadis kecil itu terpaku, sementara matanya menatap saya, dengan sorot berkaca. Ia sudah tahu bahwa saya marah, sebelum saya berbuat apapun!

Saya menarik nafas panjang dan akhirnya memilih untuk mengubah sikap. Bagaimanapun, salah saya yang meninggalkan buku berharga tadi di tempat yang terjangkau olehnya. Salah saya juga telah meremehkan kemampuna putri kecil saya!

Saya buang rasa marah itu jauh-jauh, dan menghibur diri (bukankah waktu-waktu belakangan ini cerita tetntang dia juga yang mengisi buku kesayangan itu?)

Saya condongkan kepala, berusaha melihat lebih jelas ke coretan-coretan tanpa bentuk yang kini menghias buku kesayangan itu.

“Sayang,sedang menggambar apa?”
Wajah putri saya kembali cerah. Senyum manisnya segera saja tersungging mendengar pertanyaan saya. Lugas dia langsung menjawab, ” Caca gambar rumah, buat Bunda!”

Saya memeluk putri terkasih itu, terdiam beberapa lama, dalam syukur yang tak terkira. dan Berfikir…
Kalau saja tadi marah saya meledak! Selamanya saya tak akan pernah habis mengenang rumah yang dipersembahkannya pada saya!
Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, dkk., Pelangi Nurani , PT. Asy-Syaamil Cipta Media Bandung.2001

Advertisements

Written by isal

30 November 2006 at 09:07

Posted in Power

Tagged with ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: